Mengenai Saya

Foto saya
aku adalah kamu, kamu adalah aku,

Kamis, 30 April 2015

SARASWATI : SEMAKIN BELAJAR SEMAKIN BODOH

Peringatan turunnya ilmu pengetahuan yang dilakukan tiap enam bulan dalam hitungan kalender Bali, tepatnya Saniscara Umanis Wuku Watugunung, disambut meriah oleh umat Hindu utamanya sekali menjadi istimewa bagi para pelaku pendidik khususnya di Bali. Di setiap sekolah umum di Bali diadakan persembahyangan .

Saraswati adalah nama suci untuk menyebut Dewi Ilmu Pengetahuan. Saraswati berasal dari kata saras dan wati . Saras berarti yang mengalir , wati berarti memiliki. Dewi Saraswati dilambangkan sebagai seorang wanita cantik yang membawa ganitri, wina, lontar, kuncup teratai, serta burung merak dan angsa di kiri kanannya.

Genitri atau tasbih adalah lambang bahwa ilmu pengetahuan itu tidak pernah berakhir sepanjang hidup dan tak akan pernah habis dipelajari. Lontar atau buku adalah lambang sumber ilmu pengetahuan. Wina atau alat musik ( semacam gitar kecil, red ) adalah mencerminkan bahwa ilmu pengetahuan dapat mempengaruhi rasa estetika/keindahan dari manusia. Kuncup teratai sebagai stana atau  linggih atau tempat singgasana Hyang Widhi. Sedangkan burung merak melambangkan bahwa ilmu pengetahuan itu agung dan berwibawa. Orang yang memiliki ilmu pengetahuan akan terlihat agung dan berwibawa. Sedangkan Angsa adalah hewan yang mampu membedakan makanan sekalipun di tempat berlumpur. Artinya, bahwa orang yang memiliki ilmu pengetahuan akan mampu membedakan baik dan buruk dalam kehidupannya.

Saraswati berarti sesuatu yang memiliki atau mempunyai sifat mengalirkan secara terus menerus air kehidupan dan ilmu pengetahuan. Dari arti ini, maka terungkap bahwa Dewi Saraswati yang selama ini lebih dikenal hanya sebagai Dewi ilmu pengetahuan. Ternyata juga merupakan dewi sungai sebagai sumber Dewi Kehidupan. Itulah sebabnya di India tanah kelahiran Hindu, Saraswati di kenal juga sebagai salah satu nama sungai yang dipandang suci yaitu sungai Saraswati.

Pada hari ini adalah waktu yang sangat baik dan tepat untuk memohon kepada Tuhan  agar dianugrahkan vidya (ilmu pengetahuan) dan kecerdasan, sehingga kita akan terbebas dari avidya (kebodohan) dan menuju ke pencerahan atau kebahagiaan abadi  

Hari Saraswati adalah hari pemujaan Ida Sang Hyang Widhi dalam kekuatannya menciptakan  ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dalam agama Hindu dilambangkan sebagai wanita cantik, dimana merupakan simbolis bahwa ilmu pengetahuan itu menarik bagi semua orang.

Umat manusia merasa tertarik untuk mempelajari ilmu pengetahuan seperti melihat wanita cantik. Karena itu ilmu pengetahuan dalam agama Hindu dilambangkan dengan Dewi Saraswati. Ibaratnya semakin banyak belajar maka kita akan merasa semakin bodoh, artinya semakin perlu belajar dan belajar lagi. Terbukti dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang semakin berkembang sejak mulai munculnya peradaban umat manusia

Ilmu pengetahuan merupakan harta yang tak ternilai harganya, sebab selama manusia itu hidup, ilmu pengetahuan yang dimilikinya tidak akan habis atau berkurang malah akan bertambah terus sesuai dengan kemampuannya menyerap ilmu pengetahuan. Lain halnya dengan harta benda duniawi yang sewaktu-waktu bisa habis, kalau tidak cermat memanfaatkannya. Ilmu pengetahuan merupakan senjata yang utama dalam meningkatkan kehidupan dunia ini. Orang bisa mencapai kedudukan yang terhormat, kewibawaan, kemuliaan kalau memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi.


Hari Saraswati seyogyanya bukan hanya sebuah peringatan. Hari Saraswati semestinya dimaknai secara luas. Hal yang paling penting dan harus kita petik hikmah dari setiap perayaan hari raya Saraswati ini adalah bukan hanya sekedar memperingati hari turunnya ilmu pegetahuan, tetapi lebih dari itu bahwa kita harus menginstropeksi diri seberapa banyak kita telah menggunakan atau memanfaatkan ilmu pengetahuan yang kita miliki guna peningkatan kwalitas spiritual diri sendiri maupun untuk kebahagiaan dan kesejahteraan orang lain. Dengan demikian diharapkan agar perayaan Hari Saraswati kali ini mampu meningkatkan kesadaran bagi umat khususnya dalam penerapan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Sebab ilmu pengetahuan tidak pernah habis habisnya apabila dimanfaatkan bahkan akan semakin berkembang. 

Jumat, 10 April 2015

ADA BARONGSAI DI PURA

Memasuki areal pura , suasana sakral sore itu sangat terasa.  Disamping umat Hindu yang sedang melaksanakan persembahyangan juga terlihat persiapan diadakannya upacara mepepada atau melaksanakan korban suci seekor kerbau.  Kerbau tersebut disucikan terlebih dahulu sebelum dipersembahkan sebagai korban suci yang tujuannya adalah menunjukkan sujud bakti terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Sedangkan dari luar candi bentar atau pintu masuk pura terlihat atraksi Barongsai memasuki areal pura jaba tengah.

Bukan suatu hal yang kebetulan bila ada sebuah pura di Bali yang mementaskan atraksi Barongsai dalam setiap piodalan. Pura tersebut adalah Pura Dalem Balingkang yang terletak di Kabupaten Bangli , Kecamatan Kintamani, Desa Pinggan.  Desa yang terletak sekitar 15-20 kilometer ke arah timur laut dari Pura Puncak Penulisan di jalur Denpasar Singaraja lewat Kintamani.  Atau sekitar  60 km dari Kota Denpasar.

Udara sejuk khas pegunungan, menyapa umat Hindu yang hendak bersembahyang ke Pura Dalem Balingkang. Hari itu tepat pada Purnama Sasih Kelima, diadakan piodalan di Pura Dalem Balingkang. Upacara yang diadakan setiap tahun sekali itu selalu selalu diadakan tepat pada Purnama sasih kelima, penanggalan Bali atau saat bulan purnama sekitar bulan Nopember.

Struktur  bangunan pura, tergolong unik karena menyerupai sebuah istana raja. Pura Dalem Balingkang memang dipercaya konon sebagai istana Raja Maya Danawa dan kemudian dijadikan pura oleh umat Hindu setempat.  Komplek pura pertama atau di awal adalah Pura Tanggun Titi di ujung sebuah jembatan diatas Sungai Melilit dan  disana terdapat pula sumber mata air atau disebut Taman. Disinilah kerbau yang akan dikorbankan tersebut disucikan.

Kompleks kedua adalah tanah lapang , dulu sering dipakai tempat penginapan bagi umat yang hendak bermalam di pura. Berikutnya adalah jaba tengah. Dan terakhir jeroan atau komplek utama. Salah satu yang sangat menarik dalam kompleks jaba tengah adalah pelinggih atau tempat pemujaan  Ratu Ayu Mas Subandar. Pelinggih tersebut di dominasi oleh warna merah dan kuning emas dengan nuansa tempat pemujaan bagi umat Budha atau wihara.  Di Pura ada wihara?  Sekelebat pertanyaan muncul.  Kesan pertama adalah wujud toleransi yang luar biasa. 

Saya mencoba menelusuri asal muasal adanya pelinggih yang bernuansa Cina di dalam Pura Dalem Balingkang. Tersebutlah seorang raja yang bernama Raja Jaya Pangus Harkajalancana yang memerintah wilayah Pinggan di tahun 1103-1191 Saka  atau 1181 – 1169 Masehi.  Pada saat pemerintahan beliau datanglah seorang pedagang dari Cina yang bernama  Tuan Subandar dan putrinya yang bernama Kang Cing Wie. Karena kecantikan putri pedagang dari Cina tersebut maka Raja Jaya Pangus menjadikannya istri kedua yang bergelar Sri Mahadewi Sasangkaja Cihna atau Kang Cing We.

Setelah istri keduanya tersebut meninggal, karena cintanya, dibuatkanlah sebuah tempat pemujaan yang diberi nama Pelinggih Ratu Ayu Mas Subandar, untuk memuliakan dan memujanya. Sampai hari ini pelinggih tersebut dipuja oleh masyarakat Tionghoa khususnya dan masyarakat Bali pada umumnya.



Adapun asal muasal nama Pura Dalem Balingkang adalah merupakan gabungan dari kata Bali-Ing-Kang dan kemudian lama kelamaan dalam pengucapan menjadi Balingkang. Selain mempunyai fungsi religious, untuk meningkatkan iman dan takwa terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa, pelinggih Ratu Ayu Mas Subandar juga berfungi sosial yaitu meningkatkan persatuan serta terjalinnya hubungan harmonis antar umat beragama dan fungsi akulturasi dengan adanya kebudayaan baru dalam bentuk bangunan, yang merupakan perpaduan antara budaya Bali dan Tionghoa (Cina)

Yang unik dalam setiap perayaan piodalan di Pura Dalem Balingkang adalah dipertunjukkannya atraksi Barongsai. Barongsai yang diyakini umat dari etnik Tionghoa. Kala itu pasukan dari raja Song Wen kewalahan menghadapi serangan pasukan gajah raja Fan Yang dari negeri Lin Yi. Seorang panglima perang bernama Zhong Que membuat tiruan boneka singa untuk mengusir pasukan raja Fan itu. Dan ternyata upaya itu sukses sehingga akhirnya tarian Barongsai itu melegenda sampai sekarang.

Barongsai juga merupakan cermin dari pola pikir orang Tionghoa yang terwujud dalam pertunjukan Barongsai. Menurut Wu Chenxu, Guo Licheng dan Ye Deming, dalam bukunya Shongguo de Fengsu Xiguan (Taipeh,1977) menyatakan bangsa Toinghoa adalah bangsa yang mengutamakan kebersamaan dan tidak bersifat individualis, dimana dalam tarian Barongsai diperlukan kekompakan sehingga tercipta sebuah pertunjukkan yang dinamis dan yang menarik. 

Jumat, 07 November 2014

LIN.. AKU KANGEN

Gus beringsut pelan dari tidurnya. Takut perempuan yang pulas di sampingnya terbangun karenanya. Jam dinding di ruang tamu telah beberapa lamanya berdentang duabelas kali.
Terdengar dalam ruangan seperti palu yang menghantam hantam jantungnya atau semua penghuni rumah ini juga. Entahlah. Selalu terasa suara jam itu begitu keras untuknya sehingga selalu ia terbangun karenanya. Berbanding terbalik dengan suara ibunya yang begitu lembut saat membangunkan dirinya.
Ibu, ah… Gus teringat perempuan tua yang telah melahirkannya itu. Rambutnya yang putih seolah menjadi saksi berapa lama ia memasung egonya untuk anak semata wayangnya itu. Keriput di tangannya bercerita tentang kerasnya hidup yang sudah dijalaninya. Ah.. ibu.. berapa lama Gus tak mengunjungi makamnya.
Berbulan bulan sejak ia tinggalkan kota kelahirannya untuk tinggal di rumah yang membuatnya merasa kosong. Ia teringat kota kelahirannya. Setiap pagi di hari minggu, ia akan bercengkrama di pasar burung, dengan beberapa pedagang yang dikenalnya. Hampir tiap malam dia menghabiskan waktu di taman kota sambil melukis atau sekedar ngobrol dengan rekan rekannya. Gus rindu.
Gus menghela nafas. Diraihnya sebungkus kretek dari dalam laci meja di sebelah tempat tidurnya. Hanya ini yang tidak mampu diturutinya dari semua permintaan istrinya. Gus tidak boleh memakai pakaian sembarangan kalau keluar rumah, apalagi hanya memakai kaos doplang dan celana pendek seperti saat dia di rumahnya sendiri. Gus tidak boleh makan dengan tangan, harus memakai sendok. Makan harus bersama di meja makan, tidak boleh mendahului. Gus tidak boleh.. tidak boleh.. tidak boleh…. Ah…persetan dengan semua itu.
Disulutnya sebatang rokok, setelah mematikan AC. Lalu dibukanya jendela. Istrinya pasti akan marah kalau melihatnya merokok dalam kamar. Memberikannya merokok pun ia sudah demikian terpaksa. Gus tersenyum sinis. Menarik ujung bibirnya sendiri, menertawakan dirinya sendiri.
Istrinya beringsut menghadap ke samping. Matanya masih terpejam . Dia erat memeluk bantal. Pasti kelelahan setelah pendakian menuju puncak kenikmatan beberapa saat yang lalu. Suatu kebanggaan bagi naluri lelakinya apabila perempuan itu menjadi tak berdaya di bawah keperkasaanya.
Tak dipungkiri, perempuan yang dinikahinya setahun lalu itu, begitu cantik. Wajahnya tak bercela. Hidung mancung, muka bulat telur, mata yang sendu, alis seperti semut beriring, bibir yang merah merekah bagai tomat segar di pagi hari. Dan kulitnya putih dan licin seperti kaca, dimana lalat yang hinggap disana pasti akan terpeleset karenanya.
Cantik, itu bisik temanya waktu dia bercerita dirinya akan menikah karena menjadi lelaki pilihan perempuan itu.
“ Darimana kau tau dia cantik ?” tanyanya antusias. Bukan karena cantiknya tapi karena perempuan itu telah memilihnya menjadi calon suaminya. Bagaimanapun Gus ingin tau.
“Aku pernah melihatnya di mall beberapa bulan yang lalu. Seperti biasa dia dijaga pengawal bapaknya yang jendral itu. Apa kau belum tau ? ” kata temanya.
Gus mengerdikkan bahunya. Dia memang belum tau. Yang dia tau , kemarin , seorang lelaki berbadan tegap dan berpakaian serba hitam, datang ke rumahnya, dan memintanya bersiap siap untuk menikah dengan putri majikannya. “anak anda adalah lelaki pilihan anak majikan kami. Jika ibu berkenan saya akan menjemputnya beserta ibu dua hari lagi.” Katanya kepada ibu “silakan ibu bersiap siap” lanjutnya lagi.
Dengan memandang Gus cukup lama, ibunya mengangguk, tak peduli protes yang terpancar dari mata anaknya. Ya .. hanya dari mata, sebab ia belum cukup berani mengakui ada perempuan lain yang sering menunggu kedatangannya.
Tapi bagaimana ibunya bisa semudah itu percaya ? Semudah itu memberikannya pada lelaki yang entah dari mana asal muasalnya. Lalu menikahkannya dengan perempuan, entah bagaimana rupanya. “Ibu sudah tua mungkin sebentar lagi mati, sedangkan engkau belum juga memilih seorang perempuan untuk mengurusi hidupmu yang hampir tidak jelas itu. Jadi terima saja pinangannya.”
Katanya tegas dan tak terbantah kali ini. Mungkin sudah hilang sabar atas pertanyaannya bertahun tahun tentang perempuan yang akan menjaddi menantunya, tapi belum juga mendapat jawaban pasti. “tapi bu, aku..” suara Gus tercekat di kerongkongan. Ibunya menatap tajam. Harus bagaimana mengatakan pada ibu, aku sudah punya calon pendamping tapi dia masih istri orang ? Walaupun suaminya sdh tdk lagi peduli tapi mereka belum bercerai. Ah… bagaimana ibu akan mengerti. Lalu diputuskannya untuk diam.
Dan kemudian di sinilah ia tinggal, meninggalkan makam ibunya yang pergi menghadap kepada asal muasalnya, dengan senyum bahagia di kota kelahirannya. Ibu..bahagiakah kau disana melihat anakmu ini , hidup seperti ini ? Tak ada yang benar benar ingin dia lakukan. Setiap hari matanya hanya memandangi kanvas, dan tangannya mengoreskan cat minyak, yang entah sudah berapa banyak dihabiskannya. Tak ada hasil lukisannya yang dirasa memuaskan hatinya seperti dulu . Selalu ada yang kurang. Lukisannya kosong, tanpa jiwa.
Rokoknya hampir habis, dilihatnya istrinya menggeliat mengubah lagi posisi tidurnya. Fisik, tak ada yang kurang dengannya. Pun dalam hal pengetahuannya tentang hobi dan pekerjaannya sebagai pelukis. Dari pelukis luar negeri sampai yang tenar di dalam negeri, ia mampu menandingi pengetahuan Gus, yang diraihnya di sebuah universitas dengan tertatih tatih. Lalu pada sebuah pameran yang pernah diikutinya, disanalah istrinya mengenalnya dan mengaku jatuh cinta padanya.
Apa yang kurang , hingga setiap malam ia selalu merasa gelisah, dan akhir akhir ini, beberapa minggu ini, sejak sebuah sms masuk ke handphone nya dari sebuah nomor baru. Istrinya bertanya heran, kenapa sekarang ia sering melamun. Ayah mertuanya memandangnya aneh, juga ibu mertuanya, bahkan para pembantunya.
Kini, kerinduannya berujung pada satu titik. Bukan lagi ibunya, bukan lagi kota kelahirannya tapi pada perempuan bermata sayu itu. Yang suaranya tegas tapi lembut. Yang belaiannya pada rambutnya seperti ibunya sendiri. Lin, perempuan yang ditinggalkannya begitu saja. Ya, sms itu pasti darinya, nalurinya begitu yakin. Kalimatnya singkat, “Mas… apa kabarmu ? semoga engkau bahagia” berulangkali dibalasnya sms itu tapi tak ada jawaban lagi. Ah Lin.. Apa kabarnya sekarang ?
Gus merogoh bungkus kreteknya lagi, disulutnya, lalu dihisapnya dalam dalam. Tak bisa dipungkiri, hatinya kini sungguh merindukan perempuan itu. Teringat saat dengannya, duduk berdekatan di teras rumahnya, berjalan menyusuri pantai saat dini hari, saat berboncengan mengukur jalan jalan di kota kelahirannya itu, atau saat mendengar bisikan manja dan lenguhan tak berdaya perempuan bermata sayu itu. ‘Lin….aku merindukanmu’
Jam di ruang tamu berdentang dua kali. Sudah pukul dua. Ternyata sudah hampir dua jam dia duduk dalam remang remang kamar itu. Rokoknya masih tersisa setengah. Rasa kantuk menyerang matanya. Gus tertidur.
Dia terbangun karena suara ribut di sekitarnya. Suara istrinya, suara para pembantunya dan rasa panas di kakinya. “Mas bangun mas, bangun..” kata istrinya, “tuan bangun tuan, ada kebakaran..” jerit pembantunya. Mendengar itu dia melompat dan tersadar ujung piyamanya sudah terbakar. Rupanya rokok yang tinggal setengah itu jatuh di karpet dan menimbulkan nyala api.
“ Engkau hampir membakar rumah ini , Mas “ ujar istrinya dengan nada marah yang tertahan. “Maafkan aku, Sin, aku ketiduran”
“Bukankah sudah kukatakan aku tidak suka engkau merokok dalam kamar. Engkau tidak boleh…” Dan istrinya mulai mengeluarkan dalil dan aturan aturan yang sepanjang sejarah hidupnya sampai detik ini, tidak ia sukai.
“Cukup. Aku bosan dengan kata tidak boleh itu, aku bosan dengan aturanmu ” sergah Gus. Dia muak, setiap kali di hadapkan pada kata tidak boleh dari istrinya. Hak apa dia selalu melarang ini dan itu. Bukankah dia sudah tau, sifatnya memang bebas dan tidak suka aturan yang kaku dan mengikat, itu katanya sejak istrinya mengenal dia dan mempelajari kepribadiannya.
Memang dia menumpang tinggal di rumah mertuanya. Tapi itu bukan karena kemauannya, semata mata karena istrinya tidak mau tinggal di rumah suaminya, Gus. Memang dia bukan orang sekaya istrinya tapi dia masih punya penghasilan, setidaknya dengan menjual lukisan atau menjual jasa melukis orang di tempat- tempat wisata. Dan itu tidak membuatnya malu. Tapi istrinya malu. Tentu saja, dia anak jendral. ‘dan aku lelaki pilihan’ keluh Gus dalam hati.
Istrinya ternganga melihat Gus membentaknya. Tak pernah disangka. Selama ini Gus selalu menuruti apa maunya. Memang kecuali merokok itu, tapi itupun Gus minta dengan sangat manis dan hampir memohon mohon yang membuatnya memberinya ijin.
“Aku akan pulang. Aku minta maaf sudah membuat kerusakan dirumahmu. Secepatnya akan aku ganti. “ Kata Gus dengan segera menukar bajunya . Tekadnya bulat, ia akan pulang. Tidak peduli istrinya mau ikut atau tidak.
Beberapa hari sudah ia berada di rumah ibunya. Istrinya tidak juga datang menyusulnya. Ah sudahlah. Biarkan saja dia di istananya itu, katanya kesal. Tapi seiring dengan itu pula kerinduannya pada Lin kian besar. Sampai akhirnya dia dengan segala keberaniannya datang ke rumahnya. Dia masih disana. Tinggal sendiri. Menyambutnya dengan senyum yang sama seperti dulu, dengan mata yang lembut seperti dulu, “Mas… apa kabar ? Kapan pulang ?” tanyanya. Seolah tidak pernah ada waktu terbuang diantara mereka.
“Lin, …aku kangen”
Hanya itu, sebelum keduanya berpelukan dengan penuh kehangatan.