Gus beringsut pelan dari tidurnya. Takut perempuan yang pulas di
sampingnya terbangun karenanya. Jam dinding di ruang tamu telah beberapa
lamanya berdentang duabelas kali.
Terdengar dalam ruangan
seperti palu yang menghantam hantam jantungnya atau semua penghuni rumah
ini juga. Entahlah. Selalu terasa suara jam itu begitu keras untuknya
sehingga selalu ia terbangun karenanya. Berbanding terbalik dengan suara
ibunya yang begitu lembut saat membangunkan dirinya.
Ibu, ah…
Gus teringat perempuan tua yang telah melahirkannya itu. Rambutnya yang
putih seolah menjadi saksi berapa lama ia memasung egonya untuk anak
semata wayangnya itu. Keriput di tangannya bercerita tentang kerasnya
hidup yang sudah dijalaninya. Ah.. ibu.. berapa lama Gus tak mengunjungi
makamnya.
Berbulan bulan sejak ia tinggalkan kota kelahirannya
untuk tinggal di rumah yang membuatnya merasa kosong. Ia teringat kota
kelahirannya. Setiap pagi di hari minggu, ia akan bercengkrama di pasar
burung, dengan beberapa pedagang yang dikenalnya. Hampir tiap malam dia
menghabiskan waktu di taman kota sambil melukis atau sekedar ngobrol
dengan rekan rekannya. Gus rindu.
Gus menghela nafas. Diraihnya
sebungkus kretek dari dalam laci meja di sebelah tempat tidurnya. Hanya
ini yang tidak mampu diturutinya dari semua permintaan istrinya. Gus
tidak boleh memakai pakaian sembarangan kalau keluar rumah, apalagi
hanya memakai kaos doplang dan celana pendek seperti saat dia di
rumahnya sendiri. Gus tidak boleh makan dengan tangan, harus memakai
sendok. Makan harus bersama di meja makan, tidak boleh mendahului. Gus
tidak boleh.. tidak boleh.. tidak boleh…. Ah…persetan dengan semua itu.
Disulutnya sebatang rokok, setelah mematikan AC. Lalu dibukanya
jendela. Istrinya pasti akan marah kalau melihatnya merokok dalam kamar.
Memberikannya merokok pun ia sudah demikian terpaksa. Gus tersenyum
sinis. Menarik ujung bibirnya sendiri, menertawakan dirinya sendiri.
Istrinya beringsut menghadap ke samping. Matanya masih terpejam . Dia
erat memeluk bantal. Pasti kelelahan setelah pendakian menuju puncak
kenikmatan beberapa saat yang lalu. Suatu kebanggaan bagi naluri
lelakinya apabila perempuan itu menjadi tak berdaya di bawah
keperkasaanya.
Tak dipungkiri, perempuan yang dinikahinya setahun
lalu itu, begitu cantik. Wajahnya tak bercela. Hidung mancung, muka
bulat telur, mata yang sendu, alis seperti semut beriring, bibir yang
merah merekah bagai tomat segar di pagi hari. Dan kulitnya putih dan
licin seperti kaca, dimana lalat yang hinggap disana pasti akan
terpeleset karenanya.
Cantik, itu bisik temanya waktu dia bercerita dirinya akan menikah karena menjadi lelaki pilihan perempuan itu.
“ Darimana kau tau dia cantik ?” tanyanya antusias. Bukan karena
cantiknya tapi karena perempuan itu telah memilihnya menjadi calon
suaminya. Bagaimanapun Gus ingin tau.
“Aku pernah melihatnya di
mall beberapa bulan yang lalu. Seperti biasa dia dijaga pengawal
bapaknya yang jendral itu. Apa kau belum tau ? ” kata temanya.
Gus mengerdikkan bahunya. Dia memang belum tau. Yang dia tau , kemarin ,
seorang lelaki berbadan tegap dan berpakaian serba hitam, datang ke
rumahnya, dan memintanya bersiap siap untuk menikah dengan putri
majikannya. “anak anda adalah lelaki pilihan anak majikan kami. Jika ibu
berkenan saya akan menjemputnya beserta ibu dua hari lagi.” Katanya
kepada ibu “silakan ibu bersiap siap” lanjutnya lagi.
Dengan
memandang Gus cukup lama, ibunya mengangguk, tak peduli protes yang
terpancar dari mata anaknya. Ya .. hanya dari mata, sebab ia belum cukup
berani mengakui ada perempuan lain yang sering menunggu kedatangannya.
Tapi bagaimana ibunya bisa semudah itu percaya ? Semudah itu
memberikannya pada lelaki yang entah dari mana asal muasalnya. Lalu
menikahkannya dengan perempuan, entah bagaimana rupanya. “Ibu sudah tua
mungkin sebentar lagi mati, sedangkan engkau belum juga memilih seorang
perempuan untuk mengurusi hidupmu yang hampir tidak jelas itu. Jadi
terima saja pinangannya.”
Katanya tegas dan tak terbantah kali
ini. Mungkin sudah hilang sabar atas pertanyaannya bertahun tahun
tentang perempuan yang akan menjaddi menantunya, tapi belum juga
mendapat jawaban pasti. “tapi bu, aku..” suara Gus tercekat di
kerongkongan. Ibunya menatap tajam. Harus bagaimana mengatakan pada ibu,
aku sudah punya calon pendamping tapi dia masih istri orang ? Walaupun
suaminya sdh tdk lagi peduli tapi mereka belum bercerai. Ah… bagaimana
ibu akan mengerti. Lalu diputuskannya untuk diam.
Dan kemudian di
sinilah ia tinggal, meninggalkan makam ibunya yang pergi menghadap
kepada asal muasalnya, dengan senyum bahagia di kota kelahirannya.
Ibu..bahagiakah kau disana melihat anakmu ini , hidup seperti ini ? Tak
ada yang benar benar ingin dia lakukan. Setiap hari matanya hanya
memandangi kanvas, dan tangannya mengoreskan cat minyak, yang entah
sudah berapa banyak dihabiskannya. Tak ada hasil lukisannya yang dirasa
memuaskan hatinya seperti dulu . Selalu ada yang kurang. Lukisannya
kosong, tanpa jiwa.
Rokoknya hampir habis, dilihatnya istrinya
menggeliat mengubah lagi posisi tidurnya. Fisik, tak ada yang kurang
dengannya. Pun dalam hal pengetahuannya tentang hobi dan pekerjaannya
sebagai pelukis. Dari pelukis luar negeri sampai yang tenar di dalam
negeri, ia mampu menandingi pengetahuan Gus, yang diraihnya di sebuah
universitas dengan tertatih tatih. Lalu pada sebuah pameran yang pernah
diikutinya, disanalah istrinya mengenalnya dan mengaku jatuh cinta
padanya.
Apa yang kurang , hingga setiap malam ia selalu merasa
gelisah, dan akhir akhir ini, beberapa minggu ini, sejak sebuah sms
masuk ke handphone nya dari sebuah nomor baru. Istrinya bertanya heran,
kenapa sekarang ia sering melamun. Ayah mertuanya memandangnya aneh,
juga ibu mertuanya, bahkan para pembantunya.
Kini, kerinduannya
berujung pada satu titik. Bukan lagi ibunya, bukan lagi kota
kelahirannya tapi pada perempuan bermata sayu itu. Yang suaranya tegas
tapi lembut. Yang belaiannya pada rambutnya seperti ibunya sendiri. Lin,
perempuan yang ditinggalkannya begitu saja. Ya, sms itu pasti darinya,
nalurinya begitu yakin. Kalimatnya singkat, “Mas… apa kabarmu ? semoga
engkau bahagia” berulangkali dibalasnya sms itu tapi tak ada jawaban
lagi. Ah Lin.. Apa kabarnya sekarang ?
Gus merogoh bungkus
kreteknya lagi, disulutnya, lalu dihisapnya dalam dalam. Tak bisa
dipungkiri, hatinya kini sungguh merindukan perempuan itu. Teringat saat
dengannya, duduk berdekatan di teras rumahnya, berjalan menyusuri
pantai saat dini hari, saat berboncengan mengukur jalan jalan di kota
kelahirannya itu, atau saat mendengar bisikan manja dan lenguhan tak
berdaya perempuan bermata sayu itu. ‘Lin….aku merindukanmu’
Jam
di ruang tamu berdentang dua kali. Sudah pukul dua. Ternyata sudah
hampir dua jam dia duduk dalam remang remang kamar itu. Rokoknya masih
tersisa setengah. Rasa kantuk menyerang matanya. Gus tertidur.
Dia terbangun karena suara ribut di sekitarnya. Suara istrinya, suara
para pembantunya dan rasa panas di kakinya. “Mas bangun mas, bangun..”
kata istrinya, “tuan bangun tuan, ada kebakaran..” jerit pembantunya.
Mendengar itu dia melompat dan tersadar ujung piyamanya sudah terbakar.
Rupanya rokok yang tinggal setengah itu jatuh di karpet dan menimbulkan
nyala api.
“ Engkau hampir membakar rumah ini , Mas “ ujar istrinya dengan nada marah yang tertahan. “Maafkan aku, Sin, aku ketiduran”
“Bukankah sudah kukatakan aku tidak suka engkau merokok dalam kamar.
Engkau tidak boleh…” Dan istrinya mulai mengeluarkan dalil dan aturan
aturan yang sepanjang sejarah hidupnya sampai detik ini, tidak ia sukai.
“Cukup. Aku bosan dengan kata tidak boleh itu, aku bosan dengan
aturanmu ” sergah Gus. Dia muak, setiap kali di hadapkan pada kata tidak
boleh dari istrinya. Hak apa dia selalu melarang ini dan itu. Bukankah
dia sudah tau, sifatnya memang bebas dan tidak suka aturan yang kaku dan
mengikat, itu katanya sejak istrinya mengenal dia dan mempelajari
kepribadiannya.
Memang dia menumpang tinggal di rumah mertuanya.
Tapi itu bukan karena kemauannya, semata mata karena istrinya tidak mau
tinggal di rumah suaminya, Gus. Memang dia bukan orang sekaya istrinya
tapi dia masih punya penghasilan, setidaknya dengan menjual lukisan atau
menjual jasa melukis orang di tempat- tempat wisata. Dan itu tidak
membuatnya malu. Tapi istrinya malu. Tentu saja, dia anak jendral. ‘dan
aku lelaki pilihan’ keluh Gus dalam hati.
Istrinya ternganga
melihat Gus membentaknya. Tak pernah disangka. Selama ini Gus selalu
menuruti apa maunya. Memang kecuali merokok itu, tapi itupun Gus minta
dengan sangat manis dan hampir memohon mohon yang membuatnya memberinya
ijin.
“Aku akan pulang. Aku minta maaf sudah membuat kerusakan
dirumahmu. Secepatnya akan aku ganti. “ Kata Gus dengan segera menukar
bajunya . Tekadnya bulat, ia akan pulang. Tidak peduli istrinya mau ikut
atau tidak.
Beberapa hari sudah ia berada di rumah ibunya.
Istrinya tidak juga datang menyusulnya. Ah sudahlah. Biarkan saja dia di
istananya itu, katanya kesal. Tapi seiring dengan itu pula kerinduannya
pada Lin kian besar. Sampai akhirnya dia dengan segala keberaniannya
datang ke rumahnya. Dia masih disana. Tinggal sendiri. Menyambutnya
dengan senyum yang sama seperti dulu, dengan mata yang lembut seperti
dulu, “Mas… apa kabar ? Kapan pulang ?” tanyanya. Seolah tidak pernah
ada waktu terbuang diantara mereka.
“Lin, …aku kangen”
Hanya itu, sebelum keduanya berpelukan dengan penuh kehangatan.