Suara sepeda motor memasuki pekarangan. Aku segera menghentikan
kegiatanku menjahit yang semenjak siang menyita perhatianku. Aku sedang
membuatkan kebaya untuk anakku satu satunya. Kualihkan pandangan
kearah halaman dari jendela yang terbuka. Seorang pemuda turun dari
motornya. Rani, anakku keluar dari kamarnya.
“Siapa nak
?” tanyanya. “oh.. itu Beni ma, yang sering aku certain ke mama”
lanjutnya lagi sebelum aku sempat menjawab pertanyaannya. Oh.. jadi itu
Beni, yang sering dia cerita. Anakku cukup terbuka denganku soal teman
temannya bahkan teman dekatnya. Dan Beni sudah cukup lama dekat dengan
Rani, hanya saja, Beni bekerja di kota Singaraja, sedangkan kami
tinggal di Denpasar, jadi mereka jarang ketemu. Kalau tidak salah
mereka sudah kenal selama setahun. Ini kali pertama Beni datang ke
rumah.
“Ayo masuk Ben, itu mamaku” Rani mengajak
Beni masuk dan memperkenalkannya padaku. Wajahnya manis, khas orang
timur, begitu biasa kami, orang Bali menyebut mereka yang berasal dari
Nusa Tenggara Timur dan sekitarnya. Perawakannya juga bagus. Kulitnya
sawo matang tapi bersih.
“Selamat sore tante”
sapanya dengan suara khas. Duh… hatiku terkesiap. Suara itu seperti
suara yang sering menyapaku bertahun tahun lalu.
“Ya..
sore nak..” jawabku setelah berhasil kembali dari terkejutku.“Silakan
duduk dulu Nak. Rani, suruh dong temennya duduk trus buatkan minum. Nak
Beni mau minum apa ?” keramahan seperti biasa sebagai tuan rumah.
Ternyata anakku sudah dewasa kini, dia sudah punya pacar, lalu..? ada
tanya dalam hatiku, atau tepatnya sebuah ketakutan, ketakutan terhadap
kesendirian.
Rani anakku satu satunya, tempat
harapan kugantungkan. Kini dia sudah dewasa, kuliahnya bahkan hampir
rampung. Tinggal menunggu wisuda. Seminggu yang lalu sudah yudisium
dengan prestasi yang membuatku bangga, cum laude. Dia sudah membuatku
bahagia, sekarang, sudah waktunya bagi dia untuk membina masa depannya
sendiri. Lalu aku ? aku akan duduk sendiri menunggu usia menua dan ajal
menjemputku. Ah ketakutan yang kerap menghantui datang lagi.
“Apa saja Tante, air putih juga boleh, heheee…” jawab Beni berseloroh mengumpulkan kembali pikiranku yang tadi menerawang.
“Masa jauh jauh dari Singaraja, cuma disuguhin air putih,” jawabku sambil tersenyum.
Sementara Rani membuat minuman, aku menemani Beni di ruang tamu.
“Nak Beni sudah lama kerja di Singaraja ?” tanyaku
“Sudah hampir setahun Tante,”
“Kerja dimana ?”
“Saya wartawan Singaraja”
“Oh..
wartawan tv toh” degup jantungku bertambah cepat dari biasanya. Bukan
karena usiaku yang sudah mendekati pensiun tapi ada sesuatu yang tiba
tiba saja berkelebat di depan mataku setelah mendengar jawabanya. Begitu
juga saat mata pemuda itu beradu pandang denganku. Mata yang teduh.
Untung Rani segera datang dan aku bisa segera menyingkir, membiarkan mereka berdua ngobrol dengan bebas.
Aku
merebahkan tubuhku di atas pembaringan. Punggungku agak terasa sakit
mungkin karena seharian duduk menyelesaikan kebaya anakku Rani. Sejak
kecil aku terbiasa membuatkan baju terutama kebaya sendiri untuk anakku
itu. Selain karena hobi, aku merasa puas saat melihat tubuhnya yang
ramping memakai hasil karyaku. Dengan rambut yang ikal mayang, hidung
mancung , dia terlihat manis dengan kulit sedikit gelap. Dulu dia sering
kesal dengan warna kulitnya itu. Saat jaman SMP, dimana teman
sebayanya mendewakan kulit putih. Tapi kunasehati dia, bahwa apa yang
diberikan Tuhan itulah yang terbaik, karena kukatakan dia mirip
ayahnya. Dan untuk meyakinkan dia, serta menyenangkan hatinya,
kuberikan dia sebuah gelang peninggalan ayahnya yang biasa kupakai. “
pakailah Nak, ini peninggalan ayahmu. Kemanapun engkau pergi, dia akan
menemanimu.”
Rani tidak pernah mengenal ayahnya
atau suamiku. Suamiku sudah meninggal saat dia masih kecil. Masih dalam
gendongan. Kayun, suamiku adalah lelaki yang baik. Bahkan sangat baik.
Mungkin karenanya ia cepat dipanggil Tuhan, seperti orang bilang. Dia
menerimaku apa adanya. Tak peduli dengan keadaanku yang sedang hamil
tiga bulan. Dia menganggap Rani sebagai anaknya sendiri. Dan tidak
pernah berusaha untuk tahu siapa ayah Rani sebenarnya.
Setelah
kami menikah, suamiku berhasil membeli sebuah rumah kecil, yang kini
aku tempati. Usahanya sebagai seorang tukang jahit lumayan memberi
keuntungan. Akupun membantunya bekerja sebagai tenaga honor di sebuah
rumah sakit. Tapi sayang kebahagiaan kami tidak berlangsung lama.
Suamiku meninggal kecelakaan saat pergi mencari bahan untuk pesanan
pakaian. Nyawanya tidak tertolong. Semenjak itu aku kembali hidup berdua
dengan Rani. Yang kupikirkan hanya membesarkan dia tanpa keinginan
untuk menikah lagi
“Ma.. Beni mau pulang” suara Rani di depan pintu kamarku, mengejutkanku.
“Ya Nak, sebentar” aku bangun dari tempat tidur dan mendapati mereka berdua di ruang tamu.
“Kok buru buru sekali Nak ? apa harus kembali ke Singaraja hari ini ?”
“Saya kembali besok Tante. Saya akan menjemput Bapa di bandara. Beliau ada urusan di Bali”
“Oh.. begitu, ya sudah hati hati ya Nak..”
“Trimakasih Tante.. “ Beni berpamitan , Rani mengantar sampai di gerbang halaman rumah kami.
Aku memandang mereka dari jauh. Ada rasa bahagia tapi juga rasa sedih.
“gimana ma ?” tanya Rani setelah Beni berlalu
“gimana apanya ?” tanyaku pura pura tidak mengerti.
“Ah.. mama.. bagaimana menurut mama, Beni itu ? Aku kan sudah sering cerita ke mama”
Aku tertawa kecil melihat wajahnya merengut manja, “ Kamu cinta ya sama dia ?”
“Aduh mama… ya lah.. kalau tidak cinta masa aku mau jadi pacarnya .. gimana ma ? serius ma.. bagaimana menurut mama ?”
“ehmmm…anak itu kelihatan baik. Pekerjaan juga ada.. Cuma..” ucapanku menggantung.
“Cuma apa ma ? karena dia beda keyakinan dengan kita ? itu ma ? bukankah kita sudah pernah membahas ini sebelumnya ?”
Benar,
sahutku dalam hati. Suka atau tidak , perbedaan keyakinan tetap
menjadi sesuatu yang mengganjal dalam sebuah hubungan, bagaimanapun
kita berusaha untuk menerima bahwa agama itu sama, sama sama menyembah
Tuhan, tapi rasa tetap tidak sama.
“mama ? mama kenapa diam ? mama masih keberatan karena dia Katolik dan kita Hindu ?”
Aku
menarik nafas panjang. Berat bagiku menjawab pertanyaan anakku. “Apa
kamu yakin Nak? Apa kamu yakin dengan pilihanmu ? Benar mama selalu
mengajarkan padamu semenjak kecil, bahwa kita hidup dalam kebhinekaan,
dan bagi mama semua agama mengajarkan yang baik, karena itu bagi mama
semua agama sama, walaupun menyembah Tuhan dengan nama yang berbeda.
Mungkin bagi orang lain prinsip ini salah. “
“Lalu ..?”
“Tapi
bagaimanapun, keyakinan memiliki konsekwensi adat dan budaya yang
berbeda. Adat dan budaya kita berbeda dengan mereka, apa kamu siap Nak ?
Karena seorang perempuan akan mengikuti agama suaminya setelah mereka
menikah. Benar , ada yang tetap memilih pada keyakinannya masing
masing. Tapi lebih baik untuk hanya ada satu nahkoda dalam satu perahu”
aku menatap tepat di bola matanya. Mencoba mencari jawab tentang
kesungguhan hatinya.
“mama… untuk apa aku
kuliah dan mendapat predikat sangat memuaskan, kalau aku tidak bisa
belajar untuk memahami hal itu ? Manusia selalu mampu beradaptasi kalau
dia mau belajar ma.”
Dan sekali lagi perdebatan
tentang keyakinan malam itu dimenangkan lagi olehnya. Akhirnya aku
memang harus menyetujui hubungan mereka. Aku mengakui, dia, anakku
jauh lebih berani dari pada aku dulu saat seusia dia. Dan sesuatu yang
mengejutkan diungkapkan anakku, bahwa kedatangan ayah Beni adalah
hendak melamar putriku satu satunya itu. Ya Tuhan apakah secepat itu
aku harus kehilangan anakku ?
Seminggu setelah
perbincangan itu, Beni melamar Rani dihadapanku dan memohon izin
mengajak ayahnya datang secara resmi untuk membicarakan pernikahan
mereka. Aku mengiyakan saja. Aku mencoba menekan pikiran pikiran
burukku sendiri tentang hidup dalam sepi yang panjang. Apalagi Rani
selalu menyakinkan aku, bahwa dia tidak akan meninggalkanku sendirian.
Dia akan bekerja di Denpasar begitu juga Beni, akan mohon untuk
dipindah tugaskan di Denpasar sehingga mereka tetap bisa menjagaku.
Hatiku terenyuh melihat mereka berdua begitu memperhatikan aku. Jadi
ketakutan apa yang mesti aku pelihara lagi. Tidak ada. Selain menerima
dengan sukacita pernikahan mereka.
Sekalipun beberapa
keluarga menyatakan tidak setuju tapi aku berusaha memberi mereka
pengertian. Dan bisik bisik terdengar dari kiri kanan, bagaimana aku
telah melanggar nasehat dan pendirian almarhum ayahku, yang pernah
menentang hubunganku dengan seorang katolik di masa lalu. Aku tidak
peduli. Apa aku harus menjadi bodoh untuk kedua kalinya, mengorbankan
cinta mereka. Terlalu picik bagiku untuk melihat Tuhan itu berbeda beda.
Agama itu kebenaran. Kebenaran itulah agama yang sesungguhnya. Siapa
menjalankan kebenaran maka dia menjalankan agama. Dan aku memenangkan
anakku.
Lalu aku dan anakku sibuk menyiapkan
beberapa hal termasuk makanan untuk menyambut lamaran calon besanku. Di
sebuah mall , ketika kami sedang berbelanja, Rani bertemu dengan Beni.
Mereka berbincang bincang dan aku meminta ijin mereka untuk pergi ke
toilet. Saat kembali, aku tidak melihat hanya mereka berdua, tapi
bertiga dengan seorang lelaki separuh baya, seumuran denganku, mungkin
ayah Beni. Semakin mendekat, aku seperti mengenal sosok lelaki itu. Dan
langkahku terhenti, aku terdiam di tempat, di balik sebuah pajangan
aku mengamati lelaki itu. Wajahnya tak asing lagi. Masih sama seperti
dulu saat aku mengenalnya ketika kuliah . Dadaku berdebar kencang.
Nafasku tersengal sengal seperti habis berlari berkilo kilometer
jauhnya. Aku masih diam mengamati, mencoba meyakinkan hatiku, bahwa itu
lelaki yang pernah menghias hatiku dulu bertahun tahun lamanya.
Rambutnya
ikal diikat di belakang leher. Kumisnya, jambangnya, dan senyumnya.
Senyumnya itu yang mungkin tak bisa aku lupakan seumur hidupku. Dan
tatapan matanya. Tapi saat itu aku tak bisa melihat matanya, dia sedang
berbicara dengan Beni dan Rani. Lalu kulihat dia memegang tangan Rani
yang memakai gelang pemberianku sejak SMP. Ya benar… dia mengamati
gelang itu. Ya Tuhan… apakah dia? Sebuah bayangan hitam menyeruak di
kepalaku, membuat mataku berkunang kunang dan aku jatuh tak sadarkan
diri.
Aku tersadar sedang berada dalam kamar sebuah
rumah sakit. Rani sedang berdiri di sebelahku. “Mama.. mama sudah sadar
?” Rani memegang tanganku, “Mama kenapa ma ? kenapa bisa tiba tiba
pingsan ?”
“Mama tidak apa apa Nak, mungkin hanya sedikit kurang istirahat”
“Maafkan Rani ma. Mama capek ngurusin pernikahan Rani”
“Jelek.. kenapa bicara begitu” teringat peristiwa di mall, kata kataku mengambang, dan wajahku mungkin memucat
“Ma.. mama kenapa lagi..kok wajah mama pucat ?”
Engkau
tidak tahu nak , apa yang akan terjadi padamu. Semoga saja dugaanku
salah. maafkan aku anakku, aku selalu berdoa untukmu, agar engkau tidak
menanggung sakit akibat perbuatan kami.
“Mama tidak apa apa Nak” aku meraba gelang yang dipakai anakku.
“Tadi ayah Beni tanya ma, gelang ini siapa yang kasi, aku bilang ini gelang papa, sepertinya beliau tertarik sekali ya”
Tentu
saja , gelang itu adalah gelang pemberiannya. Aku teringat bagaimana
dulu dia memberikan gelang itu padaku. Tanggal 16 Pebruari, saat dia
akan pulang ke kampung halamannya, Nusa Tenggara Timur. Kami bertemu
terakhir kalinya di pantai Sanur.
“Pakailah ini.
Gelang ini adalah perhiasan untuk wanita- wanita suku kami, suku
Lamaholot. Terbuat dari besi putih” katanya sembari memakaikan sebuah
gelang di tanganku. “Gelang ini yang mengikat hati kita. Kita akan
bertemu kembali. Pasti. Aku akan menjemputmu dan melamarmu untuk menjadi
istriku. Aku janji “
Saat itu aku tidak kuasa
mengatakan apa apa. Hatiku sedih skali. Aku takut dia tidak kembali.
Kupang bagiku terasa di belahan bumi yang lain. Seperti hatiku yang
terasa patah jadi dua. Sekalipun dia berjanji menjemputku, tetap saja,
hatiku tidak rela dia pergi. Aku hanya berjanji, gelang itu tidak akan
lepas dar tanganku sampai aku mati.
Hubungan
kami bukanlah sebentar. Sejak kuliah semester tiga sampai kini, tiga
bulan setelah wisuda. Sebenarnya dia sudah punya pekerjaan di Denpasar
ini, yang sudah ditekuni sejak masih kuliah. Dia menulis di sebuah
harian terbesar di kota ini, tapi ayahnya sakit, dia harus pulang karena
dia anak lelaki sulung.
Malam itu dia
menciumku, lebih mesra, lebih hangat dari biasanya. Terdorong oleh rasa
cinta, perpisahan dan hasrat memberikan sesuatu yang berharga untuk
orang yang dicintai, kami terhanyut melakukan perbuatan terlarang, di
tengah deburan ombak pantai Sanur.
“Tante sudah
sadar ? “ Beni masuk mendekati kami, membuyarkan kenanganku. Mataku
mencari sosok lelaki bersamanya di mall tadi. Seolah menangkap
keresahanku, Beni berkata, “Bapa sudah pulang duluan, beliau titip salam
sama tante, dan minta maaf tidak menunggu tante sampai siuman. Beliau
terburu, ada janji dengan kawannya”
Lama aku
terdiam, hatiku bergejolak, bukan lagi ketakutan akan hidup sendiri
dalam sepi seperti selama ini menjelang pernikahan anakku, tapi sesuatu
yang bersebrangan, yang jauh lebih menakutkan, seperti awan hitam yang
siap runtuh tepat di atas kepalaku. Awan hitam sebentuk masa lalu.
Aku
tahu, dia tidak akan berusaha untuk langsung menemuiku dan bicara
denganku. Itu bukan dia. Aku tahu dia akan menunggu berhari hari untuk
bertemu dan berbicara denganku seperti biasa dia lakukan dulu kalau kami
sedang bermasalah. Dan itu akan menjadi penantian yang teramat panjang
bagiku. Menunggunya berbicara.
Setelah
beberapa saat lamanya aku diperbolehkan pulang dengan catatan harus
beristirahat di rumah. Rani mengurus pernikahannya sendiri. Aku tidak
konsentrasi lagi. Aku takut semua akan sia sia dan meninggalkan jejak
yang disebut sakit hati. Aku takut, ketakutan yang seperti hantu
menguntit diriku siang dan malam.
Tiga hari
setelah pulang dari rumah sakit, Rani membangunkan aku dari tidur. “
Ma… ada telepon dari Om Varis, ayahnya Beni, katanya mau bicara dengan
mama, mungkin tentang pernikahan Ma” katanya sambil tersenyum. Tak
dapat kupungkiri ada nada bahagia dalam suaranya.
Ayah
Beni ? lelaki itu ? Benar bukan ? Dia akhirnya datang dan berbicara.
Tuhan… apakah ini saatnya awan hitam runtuh di atas kepalaku dan
menenggalamkan aku serta kebahagian anakku ? Tuhan… begitu aku menyebut
dalam hati sembari beranjak pelan mengambil gagang telpon dan seseorang
yang masih menungguku di seberang.
“Selamat malam” suara berat terdengar dari seberang menyambut salamku yang begitu pelan.
“mamanya Maharani ?”
“Ya saya sendiri ?” suaraku hampir menyerupai desah.
“Paramahita ? “ suara di seberang berubah familiar, menyebut namaku dengan lengkap , ”masih ingat saya kan ?”
Aku
berusaha keras, agar kakiku tetap kuat berdiri menopang tubuhku yang
sudah terasa mengambang, limbung. Rani masih berdiri di sebelahku.
Rupanya dia penasaran ingin tahu apa yang akan di bicarakan calon
mertuanya. Dan karenanya juga aku masih bisa bertahan. Betapa aku
bersusah payah mengatur suaraku agar tidak terdengar aneh di
telinganya.
“ya bagaimana ? “ tanyaku datar
“engkau tidak mengingatku lagi ?” suara di seberang terdengar parau
“ya saya ingat. Bagaimana ?”
“bisakah
kita bertemu untuk membicarakan hal itu ?” suara yang begitu sopan,
begitu memabukkan. Betapa aku merindukannya sampai aku tak punya
harapan lagi. Hanya gelang itu, gelang pemberiannya yang menemaniku
dengan setia. Air mataku hampir menetes mendengarnya. Beruntung di
ruang itu lampu sudah dipadamkan, sehingga Rani tidak melihat perubahan
di wajahku, di wajah mamanya yang sudah separuh baya.
Setelah
menenangkan hati aku mencoba menjawab dengan nada datar. “ ya bisa”
lalu dia menyebut sebuah tempat yang akan menjadi pertemuan kami. Dan
tempat itu adalah tempat biasa kami bertemu dulu.
Aku
letakkan gagang telepon dengan hati yang kacau balau. Kupandangi
anakku, yang sedang menunggu pembicaraan kami. Aku tersenyum
padanya,”tenanglah, dan sabar, kami sedang mengurus kebahagianmu”,
kataku, atau mungkin menghancurkannya, lanjutku dalam hati.
Di
depanku, duduk seorang lelaki yang tengah menatapku hampir tak
berkedip. Sedangkan aku, aku berusaha mengalihkan wajahku dari pandangan
matanya yang teduh itu. Café tempat kami bertemu, masih sepi. Tempat
duduk yang dipilihnyapun, adalah tempat biasa kami sering makan. Di
pojok kanan pintu masuk.
Tepat pukul sepuluh pagi, aku
merasakan hangat tangannya menyalami tanganku yang dingin. Dia
mempersilakan aku duduk dan memesan segelas jus alpukat, untukku. Dia
tidak bertanya, seolah ingin mengatakan padaku bahwa dia masih ingat
betul apa minuman yang aku suka.
Kami terdiam beberapa saat lamanya, lalu dia bertanya,”lama tidak bertemu, apa kabarmu ?”
“aku
baik” begitu canggung rasanya. Setelah sekian lama duduk berdua
dengannya. Dia masih seperti dulu. Semuanya, hanya wajahnya yang
terlihat lebih dewasa. Hampir dua puluh lima tahun lalu aku melihatnya
terakhir kali. Tapi waktu yang demikian lama tak mampu juga mengikis
rasa cintaku padanya. Aku bukan seorang perempuan yang tidak laku, tapi
ada sesuatu dalam dirinya yang selalu menarikku untuk dekat dengannya
kendatipun kami telah terpisah puluhan tahun, namun aku tahu di matanya
itu, dia masih mengingatku dan seluruh kenangan kami.
Dia
menarik nafas panjang sebelum bertanya lagi “ Maharani, dia anakku
bukan ?” Tatapan matanya itu. Menohok tepat di jantungku. Aku melihat
kesedihan yang dalam pada mata itu. Aku tidak tahan melihatnya.
“Katakan
Mita, dia anakku kan ?” sekali lagi dia bertanya, pelan tapi tegas.
Aku mengangguk. Apa lagi yang harus aku tutupi. Dia tahu Maharani
anaknya. Aku memberinya kabar setelah dia pergi bahwa aku tengah
mengandung anaknya.
Saat itu, dengan gembira dia
datang menemuiku, seperti janjinya. Dia lelaki yang bertanggung jawab.
Kami sepakat untuk menghadap ayahku, dan dia melamarku. Tapi sayang,
dengan angkuhnya ayah menolak lamarannya, sekalipun sudah kukatakan aku
sudah mengandung anak Varis.
“Apa kata keluarga besar kita nanti. Kita orang terpandang. Leluhur kita pemuka agama,pemangku di pura Kayangan Tiga. Kamu mau bikin malu ayahmu ini ?” teriak ayahku, seolah langit rumah kami akan runtuh karenanya.
Dengan
alasan berbeda keyakinan, ayah mengurungku , menyita alat
komunikasiku, hape, laptop dan semua yang bisa menghubungkan aku dengan
Varis. Kami kehilangan kontak. Ayah mengurungku seperti tahanan.
Tidak ada ijin untuk keluar rumah. Kalaupun terpaksa, aku harus dikawal.
Karena
perutku semakin membesar, dan itu bisa memberi aib keluarga, maka
dicarikannya seorang lelaki yang bersedia menikahiku, sekalipun aku
berontak dan tidak terima. Beruntung, suamiku benar benar seorang yang
baik, lahir batin dia menerima aku, mengasihi aku dan anakku seperti
anaknya sendiri.
“Dia manis sepertimu,” katanya beberapa saat kemudian setelah melihat aku mengangguk mengiyakan, dengan senyum dikulum.
Aku
tersenyum kecut. Dan menarik nafas panjang. Kata kata itu sudah lewat
bertahun lalu. Saat ini, saat usiaku sudah separuh baya, kata seperti
itu hanya seperti penggaruk hatiku dan membuatku menertawakan diriku
sendiri.
“ Dan sampai sekarang setelah usiamu kepala
lima , engkau juga masih manis” katanya lagi dengan nada menggoda,
persis seperti sering dilakukannya dulu. Ah… masih pentingkah itu bagi
kami. Bukankah itu sudah berlalu sekian tahun. Sekalipun tidak
mematikan rassa cinta, tapi usia sudah semakin tua, tak pantas
memikirkan diri sendiri lagi.
“ kenapa engkau masih bisa bergurau di saat seperti ini ?” tanyaku kesal.
“kenapa maka ?” pertanyaan khas terlontar dari mulutnya, “apa aku tidak boleh memuji calon istriku ?”
Aduh..
keterlaluan. “ Engkau tahu ini bukan waktu kita bersenang senang
seperti dulu. Semua kesalahan kita dulu kini membawa petaka pada anak
kita. Mereka sedarah. Mereka tidak bisa menikah, dan engkau tahu apa
yang akan terjadi. Sakit hati, luka..!” kataku sambil menahan suara agar
tidak terdengar pengunjung lain. Yang ada dalam pikiranku hanya
bagaimana perassaan Rani kalau tahu calon suaminya adalah saudara
tirinya.
”Dan ini semua kesalahan kita, kenapa
mereka yang harus menanggungnya ?” Aku mulai menangis. Semua
keresahanku akhir akhir ini, tumpah ruah menjadi air mata yang mengalir
tanpa henti. Mengapa anakku yang harus menanggung kesalahanku. Aku
menyesal, mengapa dia harus bertemu dengan Beni, kenapa bukan dengan
orang lain. Apakah ini berarti Tuhan sedang menghukumku ?
“Sayang ? tenanglah.. kenapa engkau selalu tidak sabar dari dulu sampai sekarang ?” tanyanya sambil memegang tanganku.
“Aku
harus sabar bagaimana, jika mereka menderita semua itu karena
kesalahan kita dimasa lalu bagaimana aku harus membayarnya.” ujarku
sesenggukan. Varis terlihat tenang.
“Kita tidak harus membayar
apapun. Dan mereka akan bahagia selamanya” Varis , berkata dengan
tenang. Aku heran. Benar, dia orang paling sabar yang pernah aku kenal.
Tapi dalam keadaan seperti ini, semua menjadi aneh.
Dia
mengusap air mataku dan berkata,” hapus air matamu, lihat aku. Aku
mencintaimu, dulu dan juga sekarang. Aku berjanji, akan membahagiakanmu,
dan anak anak kita.”
Aku menatapnya dan melihat kesungguhan dalam ucapannya, “lalu ?”
“
Dengar baik baik, calon istriku,” katanya sambil tersenyum, tapi aku
tidak menanggapi kata katanya, aku lebih menunggu kelanjutan
ucapannya,”mereka tidak sedarah, Beni anak angkatku, bukan anak
kandungku”
“apa ?” setengah berteriak, aku berseru .
“sstttt… jangan teriak teriak, orang orang melihat ke arah kita, dikiranya aku sedang memaksamu, heheeee…”
“ aduh.. sudah kakek kakek juga, masih saja genit”
“tapi
masih pantas untuk menjadi suamimu kan ? Dan kita akan mengurus dua
pernikahan sekaligus. Kau percaya gelang itu yang sudah mempertemukan
kita bukan ? Kau sudah melakukan hal yang benar tanpa sadari” Aku
mengernyitkan alis tanda tidak mengerti
“gelang itu memang
sudah seharusnya diwariskan dari ibu kepada anak perempuannya, dan
engkau tidak berkewajiban lagi memakainya sampai mati seperti janjimu
dulu”
Ya Tuhan.. aku begitu lega. Tidak pernah merasa
selega ini. “jelek..memangnya siapa yang mau menikah denganmu?” tanyaku
merengut.
“aku tidak bertanya, tapi matamu sudah menjawab mau.”
Aku
tersipu, tentu saja aku mau, karena engkaulah belahan hatiku yang kini
menyatu. Gelang itu memang mengikat hati kita dan kini sudah membawamu
kembali .
denpasar, harinyepi, 31 maret 2013
widyastuti